Berita

IFP Taja Kerja Sama Bisnis International

Oleh : Ehdra Beta Masran

Industri kelautan dan perikanan Begitu gencar meningkatkan produksinya. Menjual Sumber Daya Ikan (SDI), baik secara local maupun export. walaupun saat ini pandemic Covid 2019 terjadi. Secara tren terus meningkat. Berdasarkan Menurut mogabay data 2016 Pada kuartal pertama sebesar 1,2 juta metric ton, salah satu produksi terbesar yakni industry perikanan menguat sebesar Rp Triliun dengan pertumbuhan senilai US$1 miliar dibandingkan Kuartal terakhir 2019. Meski secara jor joran menumbuhkan bisnis kelautan dan perikanan, nelayan dianggap belum secara signifikan berada pada level makmur dan kesejateraan, sehingga harus benar benar diatur secara ketat di Indonesia. Sesuai amanat pemanfaatan SDI kelautan dan perikanan diatur di dalam undang undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dimana pada ayat B menyatakan bahwa pemanfaatan sumber daya ikan belum memberikan peningkatan taraf hidup yang berkelanjutan dan berkeadilan melalui pengelolaan perikanan, pengawasan, dan sistem penegakan hukum yang optimal.

Ikan fillet papua sebagai lembaga bisnis masyarakat berkembang, memulai pembicaraan kerja sama dengan Jejaring Bisnis Fintect, salah satunya GGG Singapure. Kesempatan kerja sama bisnis to bisnis yang berorientasi bisnis perikanan yang pro konservasi dan nelayan lokal. Rencana program yang berpotensi ditaja antara lain pengembangan portable colbox, menggunakan komponen solar panel. Green bisnis energy juga mendukung pengurangan gas rumah kaca dalam mengurangi pemanasan global. Pertemuan yang diinisiasi oleh Duithape dan GGG singapure juga memperkuat penyaluran microfinance ke level nelayan akar rumput.

GGG Singapur dalam rencana nya akan mendukung website baru untuk mendukung transaksi penjualan Ikan berbasis digital. Ikan Fillet Papua Sebagai salah satu UMKM berkembang akan menjadi field vendor untuk mengontrol kulaitas ikan dan stratergi peningkatan infrasruktur usaha perikanan.

Menurut Veda. Salah satu inisiator dalam meeting ini mengatakan “ Ikan fillet papua dapat menjadi salah satu potential vendor di lapangan. Kerja sama ini akan membangun geliat usaha masyarakat pesisir. Resiko dari digitalisasi salah satunya adalah memarjinalkan pelaku usaha skala kecil. Ini terjadi pada platform market place dan e-money yg banyak, karena minimnya pengetahuan dan pemahaman pelaku usaha di Indonesia maka mereka kalah bersaing dengan pelaku usaha yg sudah lebih paham. Nah disitulah “positioning” ikan fillet papua harus secara smart diposisikan”.

Menurut Ehdra Beta Masran, Manager Operasional Ikan fillet papua” rencana kerja sama ini akan menjadi pemain utama Supply chain produk hasil perikanan Papua Barat, serta menyediakan fasilitas transportasi yang mendukung dalam upaya
mendukung basis perpindahan barang barang dari commodity Perikanan”. Mendukung transportasi low budget to marine and Fisheries. Memberikan akses pasar yang lebih besar terhadap local community product. Kualitas Penanganan Nelayan Ke Darat, serta Pelabuhan penangkapan Ke Rumah Pendaratan dan penanganan rumah produksi. Selanjutnya Rumah produksi ke gudang/Warehouse. Rumah produksi ke tempat pemasaran juga menjadi focus ikan fillet Papua menuju Tempat Pemasaran konsumen sorong.

Rencana tindak lanjut dalam 3 bulan kedepan adalah mempelajari rencana bisnis Ikan Fillet Papua yang akan di singkronkan dengan rencana GGG Singapure. Setelah detail kontrak clear, proses kerja sama akan maju pada pembahasan kontrak detail dan kerja sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *