OpiniProfil

Peran Ekonomi untuk keberlanjutan

Artikel Ilmiah Populer, Ehd
Ehd, 2020

 

 

 

 

 

Oleh : Ehdra B Masran

Marine Data Center Independent

  • Sorong Selatan merupakan salah satu kab. Di Papua Barat dengan ibukota Teminabuan
  • Sorong Selatan memiliki ekosistem strategis pesisir, mangrove dengan jumlah besar
  • Sebagian besar ekosistem mangrove masih dalam kondisi terjaga

Hari ini masih terjadi ketimpangan pengelolaan kawasan konservasi, dan ekonomi masyarakat. Dimana, investasi pemerintah dan pendanaan lainnya membangun citra yang cenderung tidak hadir pada pengurangan kemiskinan, khususnya masyarakat pesisir.

Di sisi lain, Kondisi ini memperlihatkan tidak integralnya pendanaan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Investasi pada kawasan konservasi, berpotensi berganda (multiplier) baik secara ekonomi maupun non ekonomi. Akibatnya, tujuan pengembangan kawasan konservasi menjadi kurang berkembang.

Seyogianya, ekonomi ekosistem adalah tahapan untuk memberikan informasi akurat kepada para pengambil kebijakan, terkait nilai atau harga dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh ekosistem. Padahal, antara ekonomi dan konservasi tidak dapat terpisahkan.

Selain itu, sudut pandang ekonomi dapat memberikan pertimbangan di dalam menentukan pilihan untuk pembangunan berkelanjutan. Itulah mengapa, perencanaan kawasan perairan perlu pendekatan valuasi, sehingga uang yang tersimpan pada ekosistem dapat mendukung pengembang  menuju kondisi lebih baik.

Merujuk dari Taman Nasional Laut (TNL) Great Barrier reef, Australia, memberi kontribusi terhadap ekonomi, dimana pada 2011-12, kawasan memberi dampak mencapai US$ 5,7 miliar. Selain itu, Kawasan konservasi menyerap tenaga kerja pada seluruh bidang terkait, mencapai 269.000 orang.

Kawasan ini juga memberi sumbangan nilai tambah ekonomi kepada Negara Australia, lebih dari $ 7 miliar. Kontribusi terbesar adalah dari nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja dari kegiatan wisata, yang bernilai hampir US$ 5,2 miliar, sementara sektor wisata menghasilkan sekitar 64.000 tenaga kerja lokal.

Melihat dari valuasi ekonomi sumberdaya Raja Ampat, dengan menggunakan pendekatan Contingent Valuation Methods (CVM), diperoleh angka kesediaan membayar penduduk Raja Ampat atas jasa lingkungan mencapai angka Rp 628 juta/tahun/individu. Sedangkan kesediaan membayar di Selat Dampier lebih rendah, sebesar Rp 355 juta/ tahun/individu. Diperkirakan nilai ekonomi jasa lingkungan ekosistem di Kepulauan Raja Ampat berkisar antara Rp 1 sampai Rp 2 miliar/tahun atau mencapai Rp 10 milyar sampai Rp 18 miliar dalam jangka waktu 20 tahun dengan tingkat suku bunga 10%.

Sementara dari sebuah kajian dari Scherl dan Emerton pada 2007, terhadap 68 orang di empat Negara dengan melibatkan 950 wawancara per rumah tangga dengan melibatkan 1.100 partisipasi warga setempat, menyatakan kawasan konservasi berkontribusi mengurangi kemiskinan. Salah satu dari yang diteliti adalah di TNL Bunaken.

Kajian ini, menunjukkan bahwa intervensi konservasi adalah pro-poor. Pendekatan serta dampaknya merancang bukan hanya untuk tujuan peningkatan ekonomi saja, tetapi juga memastikan bahwa distribusi yang adil dari manfaat ekosistem, serta biaya pada semua tingkatan. Hal ini, termasuk ke dalam upaya memberi nilai tambah, menciptakan manfaat ekonomi dan sosial konservasi. Pada tingkat insentif lokal sebagai pengganti opportunity cost konservasi yang sebanding, Selain itu juga, bertujuan memperbaiki mata pencaharian dan mengurangi kemiskinan masyarakat.

Belajar dari Sorong Selatan!

Mangrove Sorong Selatan memiliki nilai manfaat langsung kayu log senilai Rp 1.5 miliar/tahun. Nilai ini menjadi salah satu potensi log kayu terbesar di Papua Barat. Sedangkan Nilai manfaat mangrove berdasarkan distrik tertinggi yaitu pada Konda, sebesar sebesar Rp 11,8 juta/tahun/Ha. karena luas tutupan mangrove distrik ini terhitung luas, meskipun panjang garis pantai hanya 1500 m, tetapi pesisir Konda ditumbuhi hutan mangrove yang lebat, sehingga menambah nilai ekonomi pesisir Sorong Selatan.

Total ekonomi ekosistem mangrove Konda mencapai Rp 357 juta/tahun, lebih besar dari pada Distrik Inawatan yang hanya sebesar Rp 125 juta/tahun. Persentase nilai manfaat tertinggi bersumber dari potensi kayu dan udang, sebesar 74,4%, sedangkan nilai manfaat terendah bersumber dari potenis siput dan ikan sebesar 0.11 %. Nilai tersebut masih tergolong rendah karena hasil tangkapan ikan dan siput hanya berupa tangkapan sampingan, serta tidak memiliki harga. Selain itu, karena masyarakat setempat, tidak banyak bekerja sebagai nelayan penangkap ikan.

Di Indonesia, total economi mangrove Sorong Selatan lebih rendah dari Kabupaten Tanjung Pinang, Banggai dan Minahasa Utara, tetapi lebih tinggi dari Kabupaten Kendal. Hal ini, disebabkan minimnya pemanfaatan langsung mangrove selain kayu dan udang. Padahal merujuk data, luasan hutan mangrove Sorong Selatan, sebesar 76.447 Ha, mencakup 2,5 % mangrove Indonesia, tentu berpotensi memberikan manfaat besar dari kawasan lain di Indonesia, Karena secara keseluruhan kawasan mangrove Sorong Selatan mendapatkan nilai kontribusi paling besar sejumlah, Rp 6 miliar/tahun.

Namun, Ekosistem mangrove masih pada kondisi peka, terhadap dampak pemanfaatan ahli fungsi lahan. Apabila terjadi kerusakan, maka kerugian yang ditimbulkan akan sangat besar. Dengan tingginya potensi nilai ekosistem, maka pemerintah melalui masyarakat harus konsisten melindungi, melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumbedaya mangrove. Selain itu, perlu optimalisasi pemanfaatan penangkapan ikan, yang sebenarnya memiliki potensi besar. Sehingga, memberikan dampak ekonomi kepada kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, implementasi valuasi ekonomi kawasan konservasi diharapkan menjadi salah satu pertimbangan utama untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat, dan menjamin hutan, khususnya mangrove terlindungi, serta mengurangi kerusakan hutan yang masif. Apabila melihat potensi ekonomi yang dapat diperoleh dari hutan mangrove, terbuka peluang besar bagi investor hutan ataupun perikanan untuk menerapkan investasi berkelanjutan, sebagai  lingkungan yang mendukung kesejateraan masyarakat Sorong Selatan.

#keberlanjutan #Sosialbisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *